Selasa, 16 November 2010

Next Journey : Komposisi Fotografi

Apakah komposisi itu? Bagaimana menjelaskan komposisi itu? Itulah hal pertama yang gue pikirkan begitu mendapat tugas tentang komposisi ini. Gue pun bingung apa yang harus gue lakukan begitu memegang kamera SLR Nikon (punya temen si~) di Kota Tua. Apa yang harus gue bidik dan bagaimana supaya ada komposisi itu..
Beberapa saat kemudian asisten dosen gue datang.. Beliau menjelaskan secara singkat tentang ini. Sinar terang muncul dibalik pikiran.. Ada pencerahan sedikit. Langsung saja, gue dan teman-teman sekelompok jepret sana-sini.
And... This is the result...


Data : f10, 1/50 Sec. Speed, ISO 200



Data : f10, 1/100 Sec. Speed, ISO 200



Data : f32, 1/40 Sec. Speed, ISO 220



Data : f36, 1/40 Sec. Speed, ISO 280



Data : f36, 1/40 Sec. Speed, ISO 280

Selasa, 26 Oktober 2010

Tugas Analisa Foto

Sesuai dengan yang sudah didiskusikan di kelas fotografi yang lalu, gue dan teman sekelompok mencoba mempraktikkan apa yang didiskusikan di kelas tentang focal lenght, depth of field, dan speed.
Back to the point, lets see our work..




My team :
1. Hendiana Johanes Philipus
2. Timothy Giovanni Loen
3. Me! Valentinus Adrian Noviandi




Depth of Field
Diafragma Kecil ke Besar










Freeze Object







Panning Object




Kamis, 14 Oktober 2010

Jakartaku Makin Kacau

Oh, tidak ada abisnya kalo ngomongin Jakarta. Apalagi kalo ngomongin gimana sih jalanan si ibukota tercinta ini,, pasti deh beragam pendapat saling bercampur bersatu padu. Beberapa waktu yang lalu, gue sempet mengabadikan foto street shots   secara ngumpet-ngumpet dan pura-pura buat menangkap orang-orang yang bodooo amat sama keselamatan diri dan orang lain di jalan. Mungkin kata mereka dalam hati, "Gak ada polisi ini.. lanjut..." Foto-foto seperti inilah yang gue ambil...menjelaskan betapa rusaknya mental sadar lalu lintas di ibukota ini...



"Kepala kita SNI, Paak...."


"Jilbab saya juga SNI kok Pak..."


"Lawan aja aah... Gue kan yang punya daerah sini"



"Paah beliin adek helm doongg.."
"Papah aja nggak pake helm dek.. Nanti kalo lontong Mama laris Papah beliin ya.."

Waduuh, bahaya Mas! Ati-ati nerobos kereta!


Hmmm...


Hmmm lagi..

Sekian.. Mari kita sama-sama renungkan...

Rabu, 06 Oktober 2010

Jenis Kamera Fotografi

Jenis-jenis kamera berdasarkan proses dan cara kerjanya :
1.     Kamera Obscura
Merupakan jenis kamera pertama yang mampu menghasilkan karya fotografi secara akurat. Proses kerjanya menggunakan plakat besi sebagai media film.


2.     Kamera Single Lens Reflect (SLR)
Prinsip kerjanya adalah menggunakan pantulan sebuah cermin di atas rana yang diarahkan pada lubang bidik (view finder) yang terarah langsung pada lensa. Kemudian dibelakangnya adalah media penerima cahaya (film, sensor ccd atau cmos), sehingga begitu tombol shutter ditekan dan rana terbuka, penerimaan waktu dapat terekam secara akurat. Keuntungan dari mekanisme seperti ini adalah minimnya gejala Parallax Error/kesalahan antara sudut pengelihatan mata dan sudut penangkap objek pada kamera.

3.     Kamera Twin Lens Reflect (TLR)
Adalah kamera dengan prinsip pantulan cermin ganda. Satu pantulan tertuju pada jendela bidik, dan yang lainnya menuju lensa. Kamera ini memiliki kekurangan dalam akurasi komposisi, atau yang biasa disebut Parallax Error. Karena pantulan yang diperlihatkan pada jendela bidik berbeda dengan pantulan yang ada di lensa.


4.     Kamera View
Adalah jenis kamera yang lebih cocok digunakan untuk still life/benda. Menggunakan kamera ini cukup sulit, karena ketepatan perhitungan antara jarak fokus pada objek, jarak antara lensa dan badan kamera akan mempengaruhi hasil pengukuran cahaya dan ketajaman. Perhitungan secara rumus diperlukan dalam hal ini. Kelebihan kamera ini adalah pengendalian distorsi yang baik pada objek.



5.     Kamera Saku
Merupakan kamera yang paling popular. Praktis dan user friendly. Dirancang memang untuk penggunaan sederhana yang fleksibel.

Jenis-jenis kamera berdasarkan ukuran film :
1.     Kamera Small Format
Kamera dengan media penerima cahaya berukuran 35 mm. Kamera ini paling populer karena ukurannya yang kecil dan praktis dibawa.
2.     Kamera Medium Format
Adalah kamera dengan standar media penerima cahayanya (film atau digital) berukuran 100-120 mm.


3.     Kamera Large Format
Merupakan kamera dengan media penerima cahayanya  diatas 120 mm.

Jenis-jenis kamera berdasarkan media perekamnya :
1.     Kamera Polaroid
Kamera ini sangat populer sebelum masa digital merambah di dunia fotografi. Film yang dihasilkan merupakan film positif yang didalamnya sudah terdapat bahan kimia kamar gelap seperti kertas, developer, fixer, yang mampu mencetak kertas foto secara instan.

2.     Kamera Digital
Adalah kamera dengan media penerima cahaya berupa sensor (ccd/cmos, dsb.) data komputerisasi. Kamera ini sangat diminati pada masa sekarang ini.

3.     Kamera Film
Merupakan kamera dengan media penerima cahaya tambahan berupa pita seluloid. Pita ini diselimuti oleh perak helida yang sangat sensitif terhadap cahaya.


                                                  

Rabu, 29 September 2010

Pinhole Camera Opinion

Wah ini asik banget ni.. Padahal sebelum mulai udah mikir yang jelek-jelek tentang pembuatan ni kamera. Setelah di coba-coba, rakit sana sini ternyata seru juga.. Gagal? Biasa deh.. Namanya juga baru pertama. Tapi terus coba buat lagi dan bikin tambah penasaran! Malah jadi kepengen punya sendiri kamera pinhole kayak gini.
Biarpun hasilnya kurang bagus, tapi seru juga ni buat karya seni iseng-iseng..

Making Journey of Pinhole Camera

  Sebelum menyampaikan opini gue yang bakal jadi tugas berikutnya mata kuliah fotografi ini, ijinkanlah gue mengeluarkan setutur, dua tutur, tiga tutur kalimat pembuka.
Jujur aja, awalnya gue agak males bikin kamera pinhole ini. Yah, bayangan gue selalu mengarah pada keribetan dan kegagalan!    
“Oh, kenapa tadi anak-anak pada bilang mauu sii…” dalam hati gue ngedumel. Namun, gue tetap ngejalanin aja ni tugas. Toh, mau ngelak juga gimana kan.
Setelah hari raya Lebaran, gue sama temen-temen sekelompok ngumpul untuk membicarakan tugas ini. Semalem sebelumnya, gue udah mencari referensi dari internet tentang gimana caranya bikin kamera ajaib ini. Wah, setelah gue liat dari sumber http://freestress.yolasite.com/trick/membuat-kamera-lubang-jarum ternyata muncul rasa penasaran dari hati gue. Ternyata kameranya kecil banget cuma segede kotak korek api! Padahal gue bayanginnya segede kotak sepatu..   hahha abisnya Mas Adit, dosen fotografi gue, bikin contoh gambarnya gede kayak kotak sepatu.   
Next destination… Gue dan kelompok ngumpulin duit buat beli rol film dan segala kebutuhan untuk menciptakan kamera korek api itu. Pastinya berdasarkan sumber tadi. Gue kasih tau juga ni temen-temen sekelompok gue yang berperan dalam bikin prototype kamera ini :
1.    Philip, si tukang ojek, bertugas berburu bahan-bahan ditemani gue yang bonceng dibelakangnya. Dia bawa motor kayak kesurupan, gue jikir terus dibelakangnya
2.   Timmy, si tuan rumah, di rumahnya yang bersuasana romantislah kamera ini diproduksi. Konon, kalau masuk ke toilet rumahnya jangan liat atas
3.     Iyo, si tenang, biar tenang tapi enggak kanyut
4.    Dhani, si penggulung rol, kita meminta bantuannya saat kesulitan menggulung rol film. Juga sebagai sumber terbesar pemasukan modal produksi
Setelah modal terkumpul, waktu itu kira-kira sekitar Rp 30.000,00, kita mulai mencari bahan yang diperlukan dan mulai membuatnya. Proses pembuatan kira-kira sekitar 2 hari. Asiikk banget deh bikinnya, beda banget sama apa yang gue bayangin sebelumnnya. Apalagi pas udah jadi, rasanya tiap orang jadi pengen punya satu.
Nah, setelah selesai dibikin kameranya dicoba dan buat motret gambar sekeliling. Pokoknya sampe filmny abis. Kita juga terus nyoba-nyoba dengan beragam waktu penyinaran. 3 detik, 5 detik, 10 detik, 20 detik semuanya dicoba. Biar kita tau hasil mana yang waktu penyinarannya paling ideal.
Setelah foto-foto, kita cuci tuh film.. jeng-jeeeng… lha kok jelek banget ya hasilnya..burem dan blur. Gue shock   dan putus asa    ….tapi akhirnya kita bikin ulang lagi. Sekamera-kameranya juga dibuat ulang.
Percobaan kedua, ternyata makin GaTot (Gagal Total). Film ternyata ga bisa jalan dan macet di kameranya. Baru ketauan pas abis dicuci, film banyak yang kosong ga kena penyinaran.
Hari deadline makin mepet, harus ngebut! Akhirnya kita pakai aja film yang pertama, dicoba cetak. Eh ternyata bisa! Horrree… lumayan, biar hasilnya kaya video hot di infotaiment yang di buremin. Gambar yang kita dapet bener-bener blur.. tapi ya sudahlah…
Enggak taunya dosen gue juga bilang memang begitu ciri khas kamera pinhole. Blur and burem. Karena ga ada lensanya..   Lega bos ati…
At least, beginilah kisah kelompok gue bikin kamera ini. Asik banget deh, ga nyesel bikinnya. Meskipun pertama-tamanya suka ada rasa males dan takut gagal. Tapi wajar ko gagal awalnya, namanya juga baru. Tapi ini kamera emang asik banget buat seru-seruan. Foto-foto hasilnya bisa jadi karya seni tuh, biarpun jelek..




Ni gue kasih liat foto-fotonya :



Sabtu, 25 September 2010

First Entry

Hmmm.. Begini toh... Ngetes doang.. ^o^